TERBUKA PADA PERUBAHAN
Matius 11:16-19, 25-30
Seorang pengrajin kayu telah puluhan tahun mengukir dengan tangan. Suatu hari, putranya yang baru lulus dari sekolah teknik menawarkan sebuah mesin. “Ayah bisa membuat lebih banyak produk dan meraih pasar yang lebih luas,” bujuk sang anak. Namun, sang ayah menolak. Baginya, penggunaan mesin tersebut mengurangi nilai seni dan sentuhan pribadi. Ia lebih memilih berkutat dengan pahat tradisionalnya karena khawatir mesin itu akan merenggut esensi dari pekerjaannya. Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus diutus oleh Allah untuk membawa pembaruan hidup bagi umat, serta memperkenalkan perjanjian yang baru. Namun, banyak orang pada masa itu, khususnya para pemuka agama Yahudi, menunjukkan sikap keras hati. Mereka lebih memilih berpegang pada pemberlakuan hukum Taurat secara ketat. Yesus Kristus menyayangkan sikap yang memberatkan tersebut. Ia mengundang orang-orang yang letih lesu dan terbeban oleh tuntutan hukum Taurat untuk datang kepada-Nya. Melalui pengajaran dan karya kasih-Nya, mereka dijanjikan kelegaan jiwa.
Mengubah cara berpikir demi kehidupan yang lebih baik memang tidak mudah. Sering kali, kebiasaan lama atau tradisi lebih mendominasi. Terlebih lagi jika pembaruan datang dari generasi muda atau orang baru. Berhati-hatilah agar kita tidak bersikap keras kepala. Terbukalah terhadap perubahan yang telah teruji kebenarannya, berpotensi membangun, dan membawa kita kepada kelegaan hidup yang dihadirkan oleh Kristus. (Wasiat)
REFLEKSI:
Kebiasaan apa yang selama ini membebani dan membuat kita letih lesu serta butuh dilegakan oleh kasih karunia Kristus?